Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 17, 2009

Pariwisata

Sektor Pariwisata

Data tahun 1998 menunjukkan bahwa jumlah hotel di seluruh daerah Sumatra Utara berjumlah 55 hotel, terdiri dari hotel bintang 1 berjumlah 19 unit, hotel bintang 2 berjumlah 20 unit, hotel bintang 3 berjumlah 8 unit dan hotel bintang 4 berjumlah 8 unit. Hotel bintang 4 hanya terdapat di Medan, Dairi, dan Asahan. Hotel bintang 3 terdapat di Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Asahan, dan Nias. Jumlah kamar hotel untuk hotel bintang 1 sekitar 929 kamar; bintang 2 berjumlah 1.157 kamar; hotel bintang 3 berjumlah 875 kamar; dan hotel bintang 4 berjumlah 1.293 kamar.

Daerah Sumatra Utara memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional, dan bahasa daerah. Masyarakatnya terdiri atas beberapa suku, seperti Melayu, Nias, Batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan (meliputi Sipirok, Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing); serta penduduk pendatang seperti Minang, Jawa dan Aceh yang membawa budaya serta adat-istiadatnya sendiri-sendiri. Daerah ini memiliki potensi yang cukup baik dalam sektor pariwisata, baik wisata alam, budaya, maupun sejarah.

Wisatawan asing yang datang ke Bandara Polonia pada tahun 1998 berdasarkan negara asal adalah sebagai berikut: dari Asia berjumlah 47.776 orang, terdiri dari wisatawan Jepang 1.192 orang, Korsel 523 orang, Taiwan 2.251 orang, Thailand 552 orang, Singapura 6.049 orang, Malaysia 35.639 orang, dan India serta Pakistan 775 orang. Sedangkan wisatawan dari Australia 961 orang, New Zealand 199 orang, Amerika Serikat 1.492 orang, Kanada 505 orang, Inggris 1.865 orang, Belanda 3.621 orang, Jerman 1.469 orang, dan dari negara Eropa lainnya dalam jumlah lebih dari 2000 orang.

Danau Toba

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik sebesar 100km x 30km di Sumatera Utara, Sumatera, Indonesia. Di tengahnya terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2800km3, dengan 800km3 batuan ignimbrit dan 2000km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu.

Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar ribuan saja.

Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.Rujukan

Pariwisata Minim Promosi


Suara Pembaruan,31 Desember 2007
Sektor pariwisata masih tertatih-tatih. Sederet masalah menjadi kendala. Dari sisi internal, masalah infrastruktur, dana promosi, maupun keamanan, memang belum memadai. Sementara dari sisi eksternal, iklim dan cuaca ikut menjadi kendala. Tahun 2007, pariwisata Indonesia masih dirundung banyak persoalan. Dari catatan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia sepanjang tahun 2007 hanya mencapai 5,5 juta orang.

Depbudpar mengakui, jumlah tersebut merupakan perolehan tertinggi yang dicapai sektor pariwisata dalam 10 tahun terakhir. Setelah sebelumnya pada tahun 2004 jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia mencapai 5,3 juta orang. Namun, tak dapat dimungkiri, jumlah 5,5 juta wisman yang diperoleh tahun ini, tak mencapai angka 6 juta wisman yang sebelumnya ditargetkan di awal tahun 2007. Dengan jumlah wisman yang mencapai 5,5 juta orang, devisa yang masuk ke kas negara mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 45 triliun.

Tahun 2008 pariwisata Indonesia menggelar hajatan besar bertajuk Visit Indonesia Year 2008 (VIY 2008), atau Tahun Kunjungan Indonesia 2008. Lebih dari 100 acara berskala internasional yang rencananya akan digelar di seluruh negeri ini sepanjang tahun 2008, Pemerintah menargetkan, VIY 2008 akan menarik sekitar 7 juta wisman, dan 118 juta wisatawan nusantara (wisnus) untuk berkunjung ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Sepanjang tahun itu ditargetkan pendapatan devisa dari sektor pariwisata akan mencapai US$ 6,4 miliar atau sekitar Rp 57 triliun.

Alhasil angka-angka target VIY 2008 terkesan muluk. Apalagi jumlah dana promosi untuk menggelar program ini hanya US$ 15 juta atau sekitar Rp 135 miliar. Sebagai perbandingan, Malaysia mengucurkan dana sekitar US$ 80 juta (sekitar Rp 720 miliar) untuk mempromosikan program Visit Malaysia Year 2007. Dengan anggaran sebesar itu, promosi Visit Malaysia Year 2007 yang diperpanjang hingga pertengahan tahun 2008 pun terlihat begitu jor-joran.

Wajarlah jika kemudian banyak pihak menyangsikan suksesnya VIY 2008, dan mempertanyakan kesiapan Pemerintah Indonesia menggelar hajatan yang bertepatan dengan 100 tahun kebangkitan Bangsa Indonesia. Sebab, persiapan yang dilakukan Pemerintah, dalam hal ini Depbudpar, dinilai terlalu mepet.

Menanggapi hal itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik tetap bersikap optimistis. Dia yakin, anggaran promosi VIY 2008 sebesar itu akan cukup membantu meningkatkan promosi pariwisata Indonesia, khususnya di luar negeri. Di antaranya dengan memasang iklan di sejumlah media massa internasional, khususnya televisi asing, dan mengikuti beragam ajang pameran di luar negeri.

Penetapan Destinasi Pariwisata Indonesia belum menjadi "dagangan" utama Indonesia. Hal itu mengingat saat ini pemerintah sedang fokus pada masalah pendidikan dan kesehatan. Karena itu, anggaran sektor pariwisata masih belum mendapatkan porsi cukup besar. Padahal, meskipun persepsi tentang Indonesia di mata dunia internasional diakui mulai membaik, beberapa hal masih mengancam perkembangan pariwisata Indonesia, di antaranya bencana alam, ancaman bom, virus flu burung, dan lain-lain. Sehingga dibutuhkan upaya promosi cukup keras untuk meningkatkan citra Indonesia di mata dunia sebagai tempat tujuan wisata yang aman, nyaman, dan indah.

Kesiapan infrastruktur sejumlah daerah yang memiliki potensi wisata pun masih cukup memprihatinkan, terutama di daerah-daerah Indonesia bagian Timur. Padahal daerah ini memiliki alam dan sejumlah kearifan lokal yang berpotensi laris untuk dijual. Pemerintah pun telah berupaya mendorong akselerasi pengembangan destinasi (daerah tujuan) pariwisata di daerah, dengan menetapkan suatu daerah menjadi destinasi pariwisata unggulan.

Di tahun 2007, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat telah lebih dulu ditetapkan sebagai destinasi pariwisata unggulan. Selanjutnya, telah ditetapkan Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Papua Barat sebagai destinasi pariwisata unggulan di tahun 2008. Daerah yang terpilih sebagai destinasi pariwisata unggulan Indonesia tersebut dinilai memenuhi kriteria, yaitu memiliki potensi daya tarik, kesiapan sarana dan prasarana, aksesibilitas, kesiapan masyarakat setempat, potensi pasar, posisi pariwisata dalam program daerah, serta rencana induk pengembangan pariwisata daerah (Rippda).

Depbudpar hanya memfasilitasi daerah untuk konsultasi dan koordinasi pengembangan daerah wisata. Untuk prioritas dan fokus pengembangan serta skema dukungan alokasi dana dari APBD pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten masing-masing. Apabila destinasi unggulan ini telah berjalan, Depbudpar akan mempercepat pembangunan pariwisata di daerah tersebut.

Pemerintah berharap, penetapan daerah destinasi pariwisata unggulan dapat meningkatkan distribusi dan penyebaran turis asing di luar Pulau Jawa dan Bali. Namun, tampaknya butuh waktu cukup lama untuk mewujudkan harapan tersebut. Pasalnya, meskipun pemerintah telah menetapkan lima destinasi pariwisata unggulan di tahun 2007, Depbudpar mencatat, hingga saat ini sekitar 94 persen wisman yang datang ke Indonesia masih memilih Jawa dan Bali sebagai daerah tujuan wisata mereka.

Hal itu, sekali lagi, antara lain kurangnya promosi. Dengan minimnya promosi yang dilakukan, asosiasi pariwisata pun menilai, pelaksanaan VIY 2008 baru akan meraup kesuksesan jika waktu pelaksanaannya diperpanjang, tak sekadar satu tahun, tapi hingga tiga tahun ke depan. Waktu tiga tahun, kata Ketua Indonesia Congress and Convention Association (INCCA), Iqbal Allan Abdullah, baru akan membuat nama Indonesia dikenal dan diakui di dunia internasional.

Sebab, untuk menggelar hajatan sebesar ini, seharusnya promosi telah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Dengan demikian, gaung VIY telah bergema ke seluruh penjuru negara yang menjadi sasaran pariwisata Indonesia, dan target yang diharapkan pun akan lebih mudah dicapai.

Beduk telah ditabuh Menbudpar, Jero Wacik di Jakarta Convention Center, pada Rabu (26/12) lalu, sebagai tanda diluncurkannya program VIY 2008 secara resmi. Namun, gaungnya belum menggema hingga ke pelosok negeri. Akankah tahun 2008 membawa keberuntungan bagi pariwisata Indonesia? Semoga... [SP/Yumeldasari Chaniago].Rujukan

Pariwisata Lainnya



Selanjutnya ..

Sabtu, November 07, 2009

Pariwisata Aceh

Pariwisata

Dalam sektor pariwisata, Daerah Istimewa Aceh memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat dikembangkan lebih baik, terutama wisata alam, wisata bahari, dan wisata sejarah. Aceh dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam pertama di Indonesia, di mana pada abad 15-16 SM berdiri kerajaan Pasai dan Periak. Daya tarik obyek wisata lainnya adalah Taman Wisata Gunung Leuser yang memiliki banyak sungai arus deras, yang menarik bagi wisatawan asing dan domestik.

Begitu pula kekayaan budaya berupa adat istiadat dan kesenian tradisonal, tari-tarian dan sebagainya akan menambah minat para wisatawan mancanegara dan domestik untuk berkunjung ke sana. Jika dikelola dengan baik, potensi pariwisata tersebut akan menambah penghasilan masyarakat Aceh yang bekerja di sektor pariwisata.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Aceh sangat membutuhkan investasi besar. Tetapi kemampuan investasi pemerintah terbatas. Untuk itu diperlukan investasi masyarakat, termasuk dunia usaha, baik dari dalam maupun luar negeri. Kini tantangan yang dihadapi oleh Pemda Aceh baik di Propinsi maupun Kabupaten/Kota adalah bagaimana menciptakan iklim usaha yang menarik minat investor dari dalam serta luar negeri dan dunia usaha lainnya. Tindakan yang perlu dilakukan antara lain adalah mengembangkan kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat menampung kegiatan ekonomi dan membuka pusat layanan informasi bisnis.

Selain potensi sumber daya alamnya, lokasi daerah Aceh termasuk cukup strategis, karena letaknya berdekatan dengan Malaysia dan Thailand dan daerah ini memiliki pelabuhan bebas Sabang yang sudah diresmikan oleh Presiden Gus Dur pada akhir Januari ta-hun 2000. Thailand dan Malaysia telah membangun kerjasama dengan Indonesia dalam pengembangan re¬gional yang dikenal sebagai Indonesia-Malaysia-Thai¬land Growth Triangle (IMT-GT). Kerjasama itu diharapkan akan mendorong dan memperluas kerjasama bidang industri, pariwisata, pertanian, dan perdagangan antarpropinsi di tiga negara tersebut.

Pariwisata Lainnya
Aceh Besar Galakkan Wisata Spiritual Dan Keluarga INDRAGIRI, KOMPAS.com - Walaupun Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, kaya dengan berbagai obyek wisata pantai, alam, dan wisata kerajinan rakyat, namun pemerintah Kabupaten Aceh Besar lebih fokus mengembangkan dan menggalakkan wisata spiritual dan wisata keluarga.

Bupati Aceh Besar Bukhari Daud mengatakan hal itu menjawab wartawan yang bersama pejabat di Direktorat Sejarah dan Purbakla Departemen Kebudayaan dan Pariwisata melakukan press tour ke Aceh Besar, Rabu (24/6) di Kecamatan Indrapuri. "Wisata tak hanya identik dengan pantai, tetapi juga wisata lain yang tak kalah menarik, yakni wisata spiritual dan wisata keluarga," katanya.

Obyek wisata menarik dan potensial seperti wisata pantai Lhok Nga, pantai Ujung Bhate, kerajinan rencong, pemandian air panas, penangkaran gajah, dan wisata spiritual ke makam Laksamana Malahayati, makam Teuku Cik Ditiro, dan masjid benteng Indragiri.

Bukhari Daud menjelaskan, pihaknya ingin merubah image bahwa wisata yang menarik itu tidak hanya di pantai atau tempat-tempat lain yang bisa tempat mojok generasi muda, tetapi juga lokasi-lokasi spiritual dan wisata keluarga yang dapat memberikan pemahaman dan nilai-nilai spiritual. Wisata semacam itu, saat ini sedang dikemas.

Ia menyontohkan, bagaimana keberadaan Benteng Masjid Indragiri, yang merupkan salah satu masjid tertua di NAD, yang gaya arsitekturnya menginspirasi pembangunan Masjid Muslim Pancasila di berbagai daerah di nusantara semasa era Soeharto. Bahkan, masjid tertua dan terkenal di Demak pun menyontoh arsitektur Benteng Masjid Indragiri.

"Masjid berusia ratusan tahun ini, tak hanya bernilai dari segi arsitekturnya, tetapi juga kualitas bangunan. Bahkan, menurut ahli akustik, bentuk bangunan masjid yang bergaya joglo tiga tingkat itu, juga memperhitungkan distribusi suara tanpa bantuan teknologi. Generasi muda sekarang dan ke depan mestinya menjadikan ini pelajaran dan inspirasi," papar Bupati Aceh Besar itu.

Seusai meninjau dan memberikan keterangan soal Benteng Masjid Indrapuri, Bupati Bukhari Daud menerima cenderamata dari Direktur Purbakala Ditjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar Sabri dan Direktur Museum Ditjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar, Intan M.
http://travel.kompas.com/read/xml/2009/06/24/09181740/Aceh.Besar.Galakkan.Wisata.Spiritual.dan.Keluarga.Rujukan

Pulau Weh
Pulau kecil yang cantik ini berada di lepas pantai utara Banda Aceh. Kota Sabang terdapat di Pulau Weh atau sering juga disebut dengan Pulau Sabang yang memiliki beberapa lokasi pantai indah dihiasi dengan nyiur melambai. Selain itu pulau ini memiliki lokasi penyelaman dan snorkeling yang menarik dan juga kawasan hutan terletak di bagian tengah pulau. Jalan lingkar pulau yang mulus telah dibangun di pulau ini sehingga memungkinkan wisatawan mengunjungi lokasi wisata alam dengan segala keindahan dan keunikannya. Sebagian besar penduduk Pulau Weh yang berjumlah 24.000 jiwa tinggal di Kota Sabang yang merupakan kota terbesar di pulau ini.

Di masa lalu, Sabang menjadi tempat persinggahan kapal-kapal besar dan merupakan depot batubara maupun sumber air bagi kapal uap yang melintasi kawasan ini, namun setelah munculnya mesin disel usai Perang Dunia ke-2 maka peranan batu bara sebagai sumber energi bagi kapal laut mulai ditinggalkan dan Sabang menjadi kota yang sepi.

Pada tahun 1970-an, pemerintah menetapkan Sabang sebagai salah satu pelabuhan bebas bea (free trade zone) di Indonesia dan hal ini sempat membuka kegiatan di Sabang menjadi marak kembali. Namun pada tahun 1986 status Sabang sebagai pelabuhan bebas bea dihapuskan dan kota ini kembali menjadi kota nelayan. Satu-satunya kegiatan ekonomi, selain penangkapan ikan (nelayan); yang terdapat di Pulau Weh adalah kerajinan perabotan dari rotan.Rujukan

Lhok Nga
Lhok Nga adalah kawasan wisata yang cukup populer karena banyak dikunjungi oleh masyarakat dari Banda Aceh dan sekitarnya khususnya pada akhir pekan walaupun di dekat lokasi wisata ini terdapat sebuah pabrik semen. Lokasi wisata yang berada 17 Km di sebelah barat Banda Aceh ini memiliki pantai yang berpasir putih. Di sini ratusan wisatawan Iokal dan manca negara selalu menghabiskan hari liburnya. Untuk pergi ke tempat ini anda dapat menumpang angkutan umum labi-labi No 4 dari Banda Aceh.

Kawasan pantai paling bagus yang terletak beberapa kilometer di selatan Lhok Nga adalah Pantai Lampu’uk, tempat yang sangat menyenangkan untuk berenang. Mereka yang berenang di tempat ini, khususnya wanita harus mengenakan pakaian yang tidak terlalu terbuka, umumnya wanita di tempat ini berenang dengan pakaian lengkap menutupi aurat.Rujukan

Museum Negeri Aceh
Museum Negeri Aceh yang terletak di Jl Sultan Alaidin Mahmud Syah, merupakan obyek wisata yang perlu dikunjungi untuk mengetahui kebudayaan Aceh pada masa lalu. Di museum ini terdapat barang-barang kuno seperti keramik, persenjataan serta benda-benda budaya lainnya seperti pakaian adat, perhiasan, kaligrafi, alat-alat rumah tangga dan lain-lain. Koleksi museum yang paling menarik adalah sebuah lonceng besar yang diberi nama “Lonceng Cakra Donya” yang merupakan hadiah dari Maharaja Cina untuk Sultan Aceh yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Di komplek museum ini terdapat sebuah rumoh Aceh yang dibangun oleh Gubernur Belanda Van Swart pada tahun 1941.

Rumah yang dibangun tanpa menggunakan sebuah paku pun ini berfungsi sebagai museum yang berisi barang-barang kuno. Sebelumnya, rumoh Aceh ini pernah dibawa ke Semarang untuk pameran pada tanggal 13 Agustus sampai dengan 15 Agustus 1915. Di dalam komplek museum ini juga terdapat bangunan yang digunakan untuk pameran barang seni atau budaya khususnya mengenai Aceh. Di sebelah barat gedung museum atau di sebelah utara rumah adat Aceh terdapat komplek makam dari para sultan Aceh dan keturunannya.Rujukan

Pinto Khop
Sebuah pintu gerbang berbentuk kubah yang dulunya menghadap istana dan menghubungkan taman dengan alun-alun istana. Pinto Khop yang terletak (berlokasi) beberapa langkah dari pendopo juga (salah satu) daya tarik kota.Rujukan

Taman Sari Gunongan
Gunongan adalah bagian dari suatu kompleks yang lebih luas, yaitu Taman Ghairah, yang merupakan bagian dari taman istana. Gunongan didirikan sekitar abad ke-16 pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Adapun detail dari bagian dari Taman Sari Gunongan itu adalah :
1. Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan.Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung.

2. Penterana Batu berukir berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah. Kursi batu ini berdiameter 1m dengan arah hadap ke utara dengan tinggi 50 cm. Sekeliling peterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif jaring atau jala. Peterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan. Belum diketahui dengan pasti nama-nama sultan yang pernah dinobatkan di atas peterana batu berukir tersebut. Bustanus as Salatin menyebutkan ada dua buah batu peterana, yaitu peterana batu berukir (kembang lela masyhadi) dan peterana batu warna nilam (kembang seroja). Namun yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah peterana batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan gunongan dan berada di sisi sungai.

3. Kandang Baginda merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan istri Sultanah Tajul Alam (1641-1670). Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan.Rujukan

Iboih
Suatu kawasan wisata pantai di daerah Sabang, Indonesia. Bersama dengan Gapang, Iboih merupakan daerah favorit untuk berekreasi dan melepaskan penat. Perairan di sekeliling pulau Sabang merupakan perairan laut lepas yang diapit oleh Selat Malaka dan Samudra Hindia. Di sekitar pantai Iboih juga terdapat resort-resort dan restoran untuk para wisatawan yang bermalam.Rujukan

Masjid Raya Baiturrahman
Sebuah masjid yang berada di pusat kota Banda Aceh. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kerajaan Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 Masehi dan dinyatakan sebagai masjid negara sekaligus diberi nama Baiturrahman. Bait artinya rumah dan Rahman artinya sifat pemurah Allah. Luas seluruh pertapakan Masjid Raya Baiturrahman 3,30 hektar dengan lima pintu gerbang. Dalam masjid bisa menampung 10.000-13.000 jemaah.

Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.

Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).

Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.Rujukan

Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser biasa disingkat TNGL adalah sebuah cagar alam berstatus taman nasional di perbatasan Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, meliputi wilayah-wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Gayo Lues dan Langkat. 4 kabupaten pertama termasuk wilayah administrasi Nanggroe Aceh Darussalam dan Langkat adalah termasuk wilayah administrasi Sumatera Utara.

Taman nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser yang menjulang tinggi dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut di Nanggroe Aceh Darussalam. Taman nasional ini meliputi ekosistem alam dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis.

Taman nasional ini pertama resmi ditetapkan sebagai cagar alam nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada tahun 1980.

Objek pariwisata yang terkenal di dalam taman nasional ini adalah Kawasan Reservasi Orang Utan Bukit Lawang, di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Selain itu, taman nasional ini juga mendapat perhatian karena maraknya kasus penebangan pohon ilegal yang menyalahi reservasi lingkungan. Salah satu akibat fatal dari penebangan pohon ilegal ini adalah banjir bandang yang menghancurkan kawasan wisata Bukit Lawang beberapa tahun lalu.Rujukan

Kuburan Kerkhoff
Kuburan Kerkhoff, adalah kuburan militer Belanda pada waktu Perang Aceh. Kompleks kuburan ini terletak di kota Banda Aceh, dan sekarang menjadi objek wisata menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara (terutama wisatawan asal Belanda).

Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Belanda yang memerangi Aceh. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak.

Bukti sejarah ini dapat ditemukan di pekuburan Belanda Kerkhoff ini. Disini dikuburkan kurang lebih 2000 orang serdadu Belanda, dan termasuk di antaranya serdadu Jawa, Batak, Ambon dan beberapa serdadu suku lainnya yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Hindia-Belanda. yang kuburannya masih dirawat dengan baik. Hingga saat ini Pemerintah Kerajaan Belanda sangat haru dan menghormati warga Banda Aceh yang merawat dengan rapi kuburan tersebut.

Kuburan Kerkhoff Banda Aceh adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Balanda yang terluas di dunia. Dalam sejarah Belanda, Perang Aceh merupakan perang paling pahit yang melebihi pahitnya pengalaman mereka pada saat Perang Napoleon.

Sebaliknya tidak terhitung banyaknya rakyat Aceh yang tewas dalam mempertahankan setiap jengkal tanah airnya yang tidak diketahui dimana kuburnya.

Di area ini, juga terdapat makam putra Sultan Iskandar Muda, yaitu Amat Popok yang berzina dan dijatuhi hukuman rajam.Rujukan

Danau Laut Tawar

Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata di Dataran Tinggi Gayo, Nanggröe Aceh Darussalam.Rujukan

Selanjutnya ..