Pariwisata
Dalam sektor pariwisata, Daerah Istimewa Aceh memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat dikembangkan lebih baik, terutama wisata alam, wisata bahari, dan wisata sejarah. Aceh dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam pertama di Indonesia, di mana pada abad 15-16 SM berdiri kerajaan Pasai dan Periak. Daya tarik obyek wisata lainnya adalah Taman Wisata Gunung Leuser yang memiliki banyak sungai arus deras, yang menarik bagi wisatawan asing dan domestik.Begitu pula kekayaan budaya berupa adat istiadat dan kesenian tradisonal, tari-tarian dan sebagainya akan menambah minat para wisatawan mancanegara dan domestik untuk berkunjung ke sana. Jika dikelola dengan baik, potensi pariwisata tersebut akan menambah penghasilan masyarakat Aceh yang bekerja di sektor pariwisata.
Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Aceh sangat membutuhkan investasi besar. Tetapi kemampuan investasi pemerintah terbatas. Untuk itu diperlukan investasi masyarakat, termasuk dunia usaha, baik dari dalam maupun luar negeri. Kini tantangan yang dihadapi oleh Pemda Aceh baik di Propinsi maupun Kabupaten/Kota adalah bagaimana menciptakan iklim usaha yang menarik minat investor dari dalam serta luar negeri dan dunia usaha lainnya. Tindakan yang perlu dilakukan antara lain adalah mengembangkan kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat menampung kegiatan ekonomi dan membuka pusat layanan informasi bisnis.
Selain potensi sumber daya alamnya, lokasi daerah Aceh termasuk cukup strategis, karena letaknya berdekatan dengan Malaysia dan Thailand dan daerah ini memiliki pelabuhan bebas Sabang yang sudah diresmikan oleh Presiden Gus Dur pada akhir Januari ta-hun 2000. Thailand dan Malaysia telah membangun kerjasama dengan Indonesia dalam pengembangan re¬gional yang dikenal sebagai Indonesia-Malaysia-Thai¬land Growth Triangle (IMT-GT). Kerjasama itu diharapkan akan mendorong dan memperluas kerjasama bidang industri, pariwisata, pertanian, dan perdagangan antarpropinsi di tiga negara tersebut.
Pariwisata Lainnya
Aceh Besar Galakkan Wisata Spiritual Dan Keluarga
INDRAGIRI, KOMPAS.com - Walaupun Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, kaya dengan berbagai obyek wisata pantai, alam, dan wisata kerajinan rakyat, namun pemerintah Kabupaten Aceh Besar lebih fokus mengembangkan dan menggalakkan wisata spiritual dan wisata keluarga.Bupati Aceh Besar Bukhari Daud mengatakan hal itu menjawab wartawan yang bersama pejabat di Direktorat Sejarah dan Purbakla Departemen Kebudayaan dan Pariwisata melakukan press tour ke Aceh Besar, Rabu (24/6) di Kecamatan Indrapuri. "Wisata tak hanya identik dengan pantai, tetapi juga wisata lain yang tak kalah menarik, yakni wisata spiritual dan wisata keluarga," katanya.
Obyek wisata menarik dan potensial seperti wisata pantai Lhok Nga, pantai Ujung Bhate, kerajinan rencong, pemandian air panas, penangkaran gajah, dan wisata spiritual ke makam Laksamana Malahayati, makam Teuku Cik Ditiro, dan masjid benteng Indragiri.
Bukhari Daud menjelaskan, pihaknya ingin merubah image bahwa wisata yang menarik itu tidak hanya di pantai atau tempat-tempat lain yang bisa tempat mojok generasi muda, tetapi juga lokasi-lokasi spiritual dan wisata keluarga yang dapat memberikan pemahaman dan nilai-nilai spiritual. Wisata semacam itu, saat ini sedang dikemas.
Ia menyontohkan, bagaimana keberadaan Benteng Masjid Indragiri, yang merupkan salah satu masjid tertua di NAD, yang gaya arsitekturnya menginspirasi pembangunan Masjid Muslim Pancasila di berbagai daerah di nusantara semasa era Soeharto. Bahkan, masjid tertua dan terkenal di Demak pun menyontoh arsitektur Benteng Masjid Indragiri.
"Masjid berusia ratusan tahun ini, tak hanya bernilai dari segi arsitekturnya, tetapi juga kualitas bangunan. Bahkan, menurut ahli akustik, bentuk bangunan masjid yang bergaya joglo tiga tingkat itu, juga memperhitungkan distribusi suara tanpa bantuan teknologi. Generasi muda sekarang dan ke depan mestinya menjadikan ini pelajaran dan inspirasi," papar Bupati Aceh Besar itu.
Seusai meninjau dan memberikan keterangan soal Benteng Masjid Indrapuri, Bupati Bukhari Daud menerima cenderamata dari Direktur Purbakala Ditjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar Sabri dan Direktur Museum Ditjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar, Intan M.
http://travel.kompas.com/read/xml/2009/06/24/09181740/Aceh.Besar.Galakkan.Wisata.Spiritual.dan.Keluarga.Rujukan
Pulau Weh


Pada tahun 1970-an, pemerintah menetapkan Sabang sebagai salah satu pelabuhan bebas bea (free trade zone) di Indonesia dan hal ini sempat membuka kegiatan di Sabang menjadi marak kembali. Namun pada tahun 1986 status Sabang sebagai pelabuhan bebas bea dihapuskan dan kota ini kembali menjadi kota nelayan. Satu-satunya kegiatan ekonomi, selain penangkapan ikan (nelayan); yang terdapat di Pulau Weh adalah kerajinan perabotan dari rotan.Rujukan
Lhok Nga

Kawasan pantai paling bagus yang terletak beberapa kilometer di selatan Lhok Nga adalah Pantai Lampu’uk, tempat yang sangat menyenangkan untuk berenang. Mereka yang berenang di tempat ini, khususnya wanita harus mengenakan pakaian yang tidak terlalu terbuka, umumnya wanita di tempat ini berenang dengan pakaian lengkap menutupi aurat.Rujukan
Museum Negeri Aceh

Rumah yang dibangun tanpa menggunakan sebuah paku pun ini berfungsi sebagai museum yang berisi barang-barang kuno. Sebelumnya, rumoh Aceh ini pernah dibawa ke Semarang untuk pameran pada tanggal 13 Agustus sampai dengan 15 Agustus 1915. Di dalam komplek museum ini juga terdapat bangunan yang digunakan untuk pameran barang seni atau budaya khususnya mengenai Aceh. Di sebelah barat gedung museum atau di sebelah utara rumah adat Aceh terdapat komplek makam dari para sultan Aceh dan keturunannya.Rujukan
Pinto Khop

Taman Sari Gunongan

1. Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan.Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung.
2. Penterana Batu berukir berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah. Kursi batu ini berdiameter 1m dengan arah hadap ke utara dengan tinggi 50 cm. Sekeliling peterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif jaring atau jala. Peterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan. Belum diketahui dengan pasti nama-nama sultan yang pernah dinobatkan di atas peterana batu berukir tersebut. Bustanus as Salatin menyebutkan ada dua buah batu peterana, yaitu peterana batu berukir (kembang lela masyhadi) dan peterana batu warna nilam (kembang seroja). Namun yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah peterana batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan gunongan dan berada di sisi sungai.
3. Kandang Baginda merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan istri Sultanah Tajul Alam (1641-1670). Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan.Rujukan
Iboih

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 Masehi dan dinyatakan sebagai masjid negara sekaligus diberi nama Baiturrahman. Bait artinya rumah dan Rahman artinya sifat pemurah Allah. Luas seluruh pertapakan Masjid Raya Baiturrahman 3,30 hektar dengan lima pintu gerbang. Dalam masjid bisa menampung 10.000-13.000 jemaah.
Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.
Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).
Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.Rujukan
Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser biasa disingkat TNGL adalah sebuah cagar alam berstatus taman nasional di perbatasan Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, meliputi wilayah-wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Gayo Lues dan Langkat. 4 kabupaten pertama termasuk wilayah administrasi Nanggroe Aceh Darussalam dan Langkat adalah termasuk wilayah administrasi Sumatera Utara.
Taman nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser yang menjulang tinggi dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut di Nanggroe Aceh Darussalam. Taman nasional ini meliputi ekosistem alam dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis.
Taman nasional ini pertama resmi ditetapkan sebagai cagar alam nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada tahun 1980.
Objek pariwisata yang terkenal di dalam taman nasional ini adalah Kawasan Reservasi Orang Utan Bukit Lawang, di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Selain itu, taman nasional ini juga mendapat perhatian karena maraknya kasus penebangan pohon ilegal yang menyalahi reservasi lingkungan. Salah satu akibat fatal dari penebangan pohon ilegal ini adalah banjir bandang yang menghancurkan kawasan wisata Bukit Lawang beberapa tahun lalu.Rujukan
Kuburan Kerkhoff
Kuburan Kerkhoff, adalah kuburan militer Belanda pada waktu Perang Aceh. Kompleks kuburan ini terletak di kota Banda Aceh, dan sekarang menjadi objek wisata menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara (terutama wisatawan asal Belanda).
Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Belanda yang memerangi Aceh. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak.
Bukti sejarah ini dapat ditemukan di pekuburan Belanda Kerkhoff ini. Disini dikuburkan kurang lebih 2000 orang serdadu Belanda, dan termasuk di antaranya serdadu Jawa, Batak, Ambon dan beberapa serdadu suku lainnya yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Hindia-Belanda. yang kuburannya masih dirawat dengan baik. Hingga saat ini Pemerintah Kerajaan Belanda sangat haru dan menghormati warga Banda Aceh yang merawat dengan rapi kuburan tersebut.
Kuburan Kerkhoff Banda Aceh adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Balanda yang terluas di dunia. Dalam sejarah Belanda, Perang Aceh merupakan perang paling pahit yang melebihi pahitnya pengalaman mereka pada saat Perang Napoleon.
Sebaliknya tidak terhitung banyaknya rakyat Aceh yang tewas dalam mempertahankan setiap jengkal tanah airnya yang tidak diketahui dimana kuburnya.
Di area ini, juga terdapat makam putra Sultan Iskandar Muda, yaitu Amat Popok yang berzina dan dijatuhi hukuman rajam.Rujukan
Danau Laut Tawar

Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata di Dataran Tinggi Gayo, Nanggröe Aceh Darussalam.Rujukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar