Perikanan
Potensi perikanan darat dan tambak yang hasilnya berupa ikan dan udang belum berkembang dengan baik. Hasil perikanan darat di Propinsi Jambi tahun 1998 mengalami penurunan sekitar 11,18 % dibandingkan tahun 1997. Hasil produksi ikan darat tahun 1998 adalah 2.561,0 ton, terdiri dari ikan kolam 1.373,9 ton, ikan keramba 1.187,6 ton, dan ikan sawah 12,8 ton. Sedangkan produksi tahun 1997 mencapai 2.884,05 ton, terdiri dari ikan kolam 1.413,2 ton, ikan keramba 1.470,8 ton, dan ikan sawah 19,1 ton.
Jenis ikan yang paling banyak antara lain ikan Mas, Nila, Mujair, Gurame, Sepat, Tembakang, dan Lele. Data perikanan laut tidak banyak karena sebagian besar wilayah Jambi berupa daratan.Rujukan
Ikan Nila
Lokasi | Luas Sentra | Produksi | Budidaya | Pemasaran | Permasalahan Pengembangan |
Kab. Muaro Jambi, Kab. Batang Hari dan Kota Jambi | Kolam 410 ha Keramba 2.750 unit KJAQ 2418 unit | Kolam 2.177 ton Keramba 778 ton Keramba jaring apung 1.201 ton | Kolam 363 ha Keramba 2.686 unit Keramba jaring apung 2.418 unit | Dipasarkan dalam bentuk ikan segar dan ikan olahan (selai, kerupuk abon) dan umumnya dipasarkan pada pasar lokal |
|
Ikan Patin
Lokasi | Luas Sentra | Produksi | Budidaya | Pemasaran | Permasalahan Pengembangan |
Kab. Muaro, Jambi Kab. Batang Hari dan Kota Jambi | Kolam 201 ha Keramba 1.815 unit Keramba jaring apung 1.157 unit | Kolam 1.053 ton Keramba 445 ton Keramba jaring apung 461 ton | Kolam 176 ha Keramba 1.583 unit Keramba jaring apung 1.157 unit | Dipasarkan dalam bentuk ikan segar dan olahan (salai, kerupuk,abon) dan umumnya dipasarkan pada pasar lokal |
|
Rujukan
Peternakan
Pengelolaan peternakan di Jambi juga belum dapat dikatakan berhasil dan optimal. Berbagai kendala masih banyak dihadapi oleh masyarakat dan Pemda Tingkat I Jambi, khususnya dinas peternakan. Hasil ternak utama tahun 1997 adalah sebagai berikut: sapi 151.108 ekor, sapi perah 86.156 ekor, kambing 126.432 ekor, ayam kampung 3.773.435 ekor, ayam broiler 2.182.855 ekor, ayam petelur 272.858 ekor, dan itik 552.130 ekor. Masih terdapat hasil ternak lain yang jumlahnya belum signifikan, seperti kerbau, domba, babi, dan kuda. Hasil peternakan di Jambi sebenarnya belum optimal dan masih dapat dikembangkan lebih jauh lagi.
Jumlah populasi ternak di Jambi tahun 1998 adalah sebagai berikut: sapi 156.360 ekor, kerbau 86.156 ekor, kambing 124. 731 ekor, babi 14.479 ekor, ayam kampung 2.615.824 ekor, ayam petelur 93.936 ekor, ayam broiler pedaging 2.925.546 ekor, dan itik 268.939 ekor.
Pembudidayaan ternak di daerah Jambi tidak semudah membalik telapak tangan. Pengembangan dan penerapan teknologi sektor peternakan di daerah ini sering kali berbenturan dengan kultur masyarakat setempat. Penerapan teknologi dan pemeliharaan ternak besar menghendaki ternak dipelihara secara baik di kandangnya, sedangkan pola kebiasaan masyarakat setempat adalah ternak justru dilepas begitu saja. Resistensi yang tinggi dari masyarakat setempat untuk mengandangkan ternak menyebabkan sentuhan teknologi tinggi di sektor peternakan ini sulit dijangkau.
Yang ideal adalah seperti budi daya peternakan model Trius S di Tapos milik mantan Presiden Soeharto. Pola seperti ini sebenarnya sangat mudah dan memungkinkan untuk diterapkan di seluruh kawasan di Indonesia, termasuk di daerah jambi. Tetapi hingga sekarang pola atau model dengan sentuhan teknologi tinggi belum berhasil akibat pola lama (tradisional) yang masih diterapkan oleh masyarakat di daerah ini.Rujukan
Sapi Potong
Sumber daya pakan : 1.505.706 ST
Daya tampung ternak : 1.424.657 ekor
Sumber daya peternak : 58.152 KK
Peluang pasar : Domestik dan eksport
Peningkatan Produksi dan Produktivitas ternak
Aktivitas Pemerintah :
a. Pengadaan ternak bibit betina
b. Inseminasi buatan
Aktivitas Swasta :
a. Usaha Penggemukan
b. Usaha Pembibitan
c. Pemberdayaan ternak lokal
d. Pelatihan teknologi pakan
e. Peningkatan SDM Petugas
f. Pembentukan sumber - sumber bibit baru di Pedesaan
g. Penyiapan sarana padang penggembalaan
h. Penyiapan sarana pos pelayanan terpadu
i. Pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular
j. Promosi, Fasilitasi komoditas pertanian.
Rujukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar